Makanan Beku: Aman Dikonsumsi atau Tidak?

Saat menyiapkan makanan untuk anak-anak, para orang tua tentu peduli dengan kebersihan pangan demi kesehatan buah hati tercinta.

makanan-beku-sayur-dan-nuggetContoh makanan beku. Sumber: frozenor.com

 

Kebanyakan orang menganggap semua makanan yang sudah dimasukkan ke dalam kulkas atau freezer itu sudah bebas dari kuman penyakit. Namun faktanya, makanan dingin dan beku belum tentu menjamin kebersihan dan kesehatan konsumennya. Oleh karena itu, mari kita telusuri apa yang menjadi penyebabnya.

Mikroba tertentu pada bahan pangan dapat menyebabkan penyakit seperti diare atau gejala muntah yang kita kenal sebagai keracunan makanan. Karena itu, pengawetan pangan dilakukan untuk menghentikan pertumbuhan mikroba patogen atau memperlambat pertumbuhan mikroba penyebab kerusakan makanan, misalnya dengan penyimpanan di kulkas ataupun freezer. Tetapi tahukah Anda, salah satu mikroba, yaitu bakteri Vibrio cholerae, tetap mampu bertahan hidup meski pada suhu rendah? Hal ini dikemukakan oleh Ibu Diana E. Waturangi, Ph.D berdasarkan penelitian beliau pada tahun 2015 mengenai keberadaan bakteri penyebab penyakit pada produk makanan dingin dan beku.

kochVibrio cholerae (kiri) & Escherichia coli (kanan). Sumber: Robert Koch Institute dan National Institute of Allergy and Infectious Diseases – NIH

Berdasarkan penelitian Dr. Waturangi, diketahui bahwa bakteri Vibrio cholerae mampu bertahan hidup hingga 3 bulan di dalam lemari es (pada suhu 4ºC) atau dalam freezer (pada suhu -20ºC). Selain Vibrio cholerae, juga terdapat bakteri lain, seperti Escherichia coli (E. coli) yang mampu bertahan pada suhu rendah. Kedua bakteri ini dapat ditemukan dalam minuman dengan es batu dan produk daging, seperti nugget, daging ayam beku, dan bakso ikan beku.

 

frozen meatProduk daging beku. Sumber: bbq4all.com

Sedangkan, produk susu dingin dan produk beku yang mengandung serat tinggi memiliki potensi cemaran yang lebih rendah. Baik Vibrio cholerae dan E. coli hanya bertahan selama 1 bulan pada produk susu dan produk berserat tinggi.

“Sebenarnya sumber utama cemaran pada produk makanan atau minuman itu berasal dari air. Bila bahan dasarnya sudah kurang baik, maka produk yang dihasilkan juga kurang baik,”

— Diana E. Waturangi, Ph.D.

Dr. Diana turut menambahkan, beliau melakukan penelitian ini mengingat keamanan makanan masih sangat kurang, khususnya makanan dan minuman pinggir jalan dan area sekolah.

Informasi lebih lengkap mengenai temuan beliau dapat diakses di sini.

Makanan yang dipasarkan di Indonesia sudah melewati persyaratan serangkaian uji yang dilakukan oleh BPOM, sehingga aman untuk dikonsumsi. Tetapi, sebaiknya kita harus tetap cermat dalam mengolah makanan yang akan dikonsumsi, contohnya dengan mencuci sayur dan buah-buahan sebelum disimpan dan tidak mencampurkan bahan mentah dan makanan siap makan di satu bagian yang sama pada kulkas ketika disimpan.

 

 

Artikel ini ditulis oleh Melina, Elisabeth, Gabriella, dan Ivana Purnawidjaja sebagai proyek mata kuliah Komunikasi Sains. Mereka adalah mahasiswi angkatan 2014 Program Studi Biologi, Fakultas Teknobiologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

 Editor: Watumesa Tan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s